Beranda Opini Calak Edu Penguatan Literasi Keilmuan
Penguatan Literasi Keilmuan PDF Print E-mail
User Rating: / 0
BurukBagus 
Tuesday, 10 October 2017 08:48

Ada sedikit masalah di sekolah, wastafel mampet. Anak-anak kebingungan karena tidak segera dapat cuci tangan sehabis makan siang. Bapak dan ibu guru yang mendampingi juga terlihat kebingunan, apa yang harus dilakukan. Serta-merta salah seorang usul untuk segera memanggil tukang. Tukang datang masalah terselesaikan. Pertanyaannya adalah mengapa masalah yang sesederhana ini harus diselesaikan tukang, mengapa bukan anak-anak sendiri yang mencoba belajar menyelesai-kan persoalannya? Tampaknya para guru juga tidak memiliki cukup keterampilan untuk memperbaiki wastafel mampet.

Di rumah WC buntu, anakanak tinggal teriak, “pa-ma….. WC-nya buntu!”. Celakanya, si papa dan mama juga melakukan pilihan yang sama, panggil tukang! Banyak persoalan sederhana dalam kehidupan sehari-hari penyelesaiannya selalu diserahkan kepada orang lain, para ‘profesional’ di bidangnya. Jika terus-menerus demikian, lalu kapan anak memiliki kesempatan belajar menyelesaikan masalah riil dalam kehidupan? Benar, pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu, tapi ada satu yang tertinggal: ilmu yang bermanfaat.

Dalam lingkup yang lebih besar, tidak sedikit sarjana ekonomi yang tidak terampil berwirausaha. Sarjana teknik tidak pernah menghasilkan karya rekayasa teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sarjana hukum malah menjadi tersangka dalam kasus hukum. Sarjana pertanian tidak melahirkan konsep-konsep baru yang mampu meningkatkan taraf hidup petani. Atau sarjana psikologi yang malah menjadi sumber masalah di kantornya, bukan menjadi bagian dari solusi. Apa sebetulnya yang terjadi?

Literasi keilmuan

Literasi keilmuan (scientific literacy) ialah pengetahuan dan pemahaman akan konsep dan proses ilmiah yang diperlukan untuk pengambilan keputusan pribadi, partisipasi dalam urusan kewarganegaraan dan budaya, serta produktivitas ekonomi. Dengan literasi keilmuan yang memadai seseorang dapat bertanya, menemukan, atau menentukan jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam dinamika kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain seseorang memiliki kemampuan untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memprediksi fenomena alam dan kehidupan (National Science Education Standards - USA, 1996).

Dengan kata lain, literasi keilmuan ialah juga kemampuan membaca dan memahami berbagai artikel ilmiah, sesuai dengan bidang yang ditekuni, dan terlibat secara intens dalam aneka diskursus yang menyangkut dinamika kehidupan sosial guna memvalidasi kesimpulan. Literasi keilmuan menyiratkan bahwa yang bersangkutan juga dapat mengidentifikasi isu-isu ilmiah yang mendasari keputusankeputusan penting, baik di tingkat nasional maupun lokal, dan sanggup mengungkapkan posisi yang diinformasikan dalam konteks keilmuan.

Seorang terpelajar dengan literasi keilmuan memadai semestinya dapat mengevaluasi kualitas informasi ilmiah berdasarkan sumbernya dan metode yang dipergunakan untuk menghasilkannya. Tidak hanya itu, mereka ini mampu pula mengajukan dan mengevaluasi argumen berdasarkan bukti dan menerapkan kesimpulan dari argumen semacam itu dengan tepat dalam dunia nyata. Bagi orang dengan literasi keilmuan tinggi, ilmu tidak lagi bersemayam di menara gading, akan tetapi benar-benar landing dalam kehidupan.

Biasanya individu menampilkan literasi keilmuanya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang lebih suka menggunakan istilah-istilah teknis, namun terdapat pula yang lebih cenderung praktis, menerapkan konsep dan proses ilmiah untuk menyelesaikan berbagai persoalan nyata kehidupan. Pada kenyataannya orang memang memiliki perbedaan tingkat literasi keilmuan, di ranah yang berbeda-beda pula. Misalnya, terdapat sementara kalangan lebih memahami konsep dan peristilahan sains, namun kurang memahami konsep, apalagi mengimplementasikan resep-resep ilmu sosial.

Pendek kata, literasi keilmuan sebenarnya lebih merupakan semacam keterampilan dan karenanya memiliki derajat dan bentuk yang berbeda beda. Ia terus berkembang sepanjang rentang kehidupan. Adalah sangat keliru jika kita menganggap literasi keilmuan hanya berkembang selama tahun-tahun di sekolah atau di kampus. Meskipun memang benar bahwa sikap dan nilai keilmuan yang diperoleh di tahun-tahun awal akan membentuk perkembangan literasi keilmuan seseorang ketika dewasa.

Model penguatan literasi

Di antara sejumlah cara yang banyak di tempuh dalam mengembangkan literasi keilmuan ialah penggunaan PBL (problem based learning) dalam proses pembelajaran. PBL adalah model pembelajaran berbasis problem. Penyampaian materi belajar tidak lagi berupa mata pelajaran yang berdiri sendiri, terpisah, namun dalam satu blok. Berbagai materi belajar diintegrasikan untuk secara bersama-sama menjelaskan, memprediksi, dan menyelesaikan kasus.

Oleh karena sejak awal proses pembelajaran selalu berangkat dari kasus riil dalam kehidupan, dan berusaha ‘dibedah’ secara akademik, siswa/mahasiswa akan lebih terbiasa kalau nanti menghadapi kasus serupa dalam tugas profesionalnya di kemudian hari. Ini tentu amat berbeda dengan pembelajaran lama yang basisnya mapel. Cara terakhir menyulitkan anak pada dataran aplikasi.

Problem based learning merupakan jenis pembelajaran yang berpusat pada siswa. Mereka belajar suatu subjek melalui pengalaman memecahkan masalah terbuka yang ditemukan pada bahan ajar. Oleh karena itu, proses PBL juga tidak terfokus pada pemecahan masalah dengan solusi yang pasti, ‘tertutup’, namun lebih diarahkan untuk mengembangkan keterampilan dan atribut lain yang dihehendaki, termasuk di sini ialah akuisisi pengetahuan, kolaborasi kelompok, dan penyempurnaan keterampilan berkomunikasi.

Cara lain yang juga disarankan ialah penggunaan pembelajaran kontekstual. Model ini menekankan kontekstualisasi setiap topik pembelajaran dengan realitas kekinian di lingkungannya. Ketika pelajaran agama sampai pada materi ‘kebersihan adalah sebagian dari iman’, konsep ini harus dikaitkan dengan persoalan kebersihan lingkungan yang terjadi di masyarakat. Bagaimana mungkin komunitas yang mengaku beriman, tetapi memiliki perilaku sadar lingkungan yang sangat buruk? Mengapa iman seperti tidak berhubungan dengan perilaku bersih pemeluknya?

Mungkin saja selama ini guru kita kurang intens dalam mencoba menghubungkan konten materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan nyata sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja profesional. Akibatnya, materi pembelajaran cenderung teoretis dan lepas konteks. Jika saja guru memiliki cukup kepiawaian dalam mengaitkan materi dengan konteks, siswa pasti akan sangat terbantu bukan saja dalam memahami konsep, akan tetapi juga aplikasinya di lapangan.

Pada akhirnya kelemahan sebagian besar pendidikan kita ialah miskinnya pengalaman belajar substantif yang dimiliki anak. Mereka dijejali dengan banyak konsep dan teori yang disampaikan satu arah. Experiential learning menjadi sesuatu yang masih langka di Republik ini. Berbagai penataran metode pembelajaran terbaru yang selama ini dilakukan rupanya belum dapat sepenuhnya mengubah kebiasaan guru sebagai penceramah.

Keuntungan penggunaan metode ini ialah karena pembelajaran eksperiensial merupakan jenis pembelajaran yang mendukung siswa dalam menerapkan pengetahuan dan pemahaman konseptual terhadap masalah dunia nyata atau situasi otentik, di sini instruktur mengarahkan dan memfasilitasi pembelajaran (Wurdinger & Carlson, 2010). Pembelajaran yang berbasis “pengalaman” seperti ini berisi semua elemen berikut: refleksi, analisis kritis-sintesis, kesempatan bagi siswa untuk berinisiatif, membuat keputusan dan bertanggung jawab atas hasilnya.

 
Banner
Copyright © 2017 Sekolah Sukma Bangsa Pidie. All Rights Reserved.