Beranda Opini Calak Edu Membentuk Karakter lewat Permainan Tradisional
Membentuk Karakter lewat Permainan Tradisional PDF Print E-mail
User Rating: / 0
BurukBagus 
Tuesday, 26 September 2017 09:39

Di era 1970-1990-an, anak-anak belum mengenal permain- an modern seperti Playstation, online game, internet, dan komputer. Anak-anak juga belum mengenal ponsel, apalagi smart phone. Televisi juga masih hitam putih. Anakanak bisa bermain bebas di luar bersama teman-teman, mereka bisa berinteraksi satu sama lain. Anak-anak saat itu cuma mengenal permainan engklek, pecah piring, lompat tali, dan beberapa permainan tradisional lain. Namun, anakanak merasa bahagia.

Indonesia memiliki beragam budaya yang patut kita banggakan. Hal ini bisa kita lihat dari beragam permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia, sepatutnya kita bangga dengan beragam budaya yang kita miliki dan harus kita lestarikan. Permainan tradisio nal merupakan salah satu warisan dari nenek moyang kita dan bisa menjadi identitas bangsa.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih, jenis-jenis permainan itu sudah mulai luntur, bahkan tidak dikenal lagi. Padahal, permainan tradisional itu bukan sekadar permainan, melainkan juga bisa mengajarkan anak-anak bersikap sportif, saling menghargai, ketelitian, kerja sama, serta bertanggung jawab. Seperti pada permainan pecah piring, setiap peserta dituntut bekerja sama dengan kelompok, saling menghargai sesama anggota tim, dan tidak curang bermain.

Menurut Ashibly (2003), permainan tradisional merupakan sekumpulan ciptaan tradisional, baik yang dibuat kelompok maupun perorangan, dalam masyarakat yang menunjukkan identitas sosial dan budaya berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti turuntemurun. Itu termasuk (1) cerita rakyat dan puisi rakyat, (2) lagu-lagu rakyat dan musik instrumen tradisional, (3) tariantarian rakyat dan permainan tradisional, dan (4) hasil seni. Namun, akhir-akhir ini permainan tradisional sangat kurang diminati anak-anak, bahkan lambat laun menghilang khususnya di kota-kota besar. Anak-anak zaman sekarang banyak tidak mengenal permainan tradisional.

Perkembangan teknologi dan transformasi budaya ke arah kehidupan modern menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan nilainilai dari permainan tradisional. Globalisasi dunia juga memberikan pengaruh yang besar dalam hal itu. Ashibly (2003) juga menyatakan bahwa banyak sisi positif yang bisa didapatkan dari permainan tradisional Indonesia, antara lain (1) pemanfaatan bahanbahan permainan yang berasal dari alam dan (2) memiliki hubungan yang erat dalam melahirkan penghayatan terhadap kenyataan hidup manusia.

Salah satu cara melestarikan permainan tradisional ialah melalui pen didikan. Kurikulum pendidikan nasional seyogianya memadukan unsur-unsur tradisional berbagai daerah di Indonesia, seperti adanya kolaborasi silabus mata pelajaran dengan permainan tradisional. Sebagai contoh, pada pelajaran olahraga kebanyakan siswa senang dengan permainan futsal, bola kaki, atau badminton. Padahal, guru juga bisa sesekali mengolaborasi atau mengganti jenis olahraga itu dengan permainan tradisional yang tidak kalah menariknya, seperti engklek dan pecah pi ring. Dengan begitu, permainan tradisional tidak akan luntur dan tetap diminati a n a k - anak. Permainan tradision a l j u g a mem berikan banyak manf a a t m e m b e n - tuk karakter anak terutama di bidang pendidikan. I Wayan Tarna (2015) dalam studinya yang berjudul Peranan Per mainan Tradisional dalam Pendidikan memaparkan bahwa permainan tradisional dapat meningkatkan berbagai aspek perkembangan anak, antara lain (1) aspek motorik yang dapat melatih daya tahan, daya lentur, sensori-motorik, motorik kasar, dan motorik halus; (2) aspek kognitif yang dapat mengembangkan imajinasi, kreativitas, problem solving, strategi, antisipatif dan pemahaman kontekstual; (3) aspek emosi mampu mengasah empati, pengendalian diri dan katarsis emosional; dan (4) aspek bahasa dapat mengembangkan pemahaman konsep-konsep nilai.

Permainan tradisional meningkatkan gerak motorik anak yang mampu menstimulus pertumbuhan otot dan otak menjadi lebih baik. Otot dan otak mampu bekerja seimbang sehingga dengan sendirinya mampu m e n d o r o n g peningkatan kecerdasan anak dalam ber pikir. Selain itu, permainan tradisional mampu meningkatkan interaksi sosial yang berpengaruh pada kemampuan berkomunikasi anak, sikap saling menghargai, dan sportivitas melalui aturanaturan yang ada dalam permainan se hingga anak mampu mengendalikan emosi dan sikap empati antarsesama.

Melalui permainan tradisional juga, anak belajar lebih mencintai alam dan meningkatkan nilai spiritual kepada Tuhan YME melalui sikap moral dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Alam memberi pelajaran berharga agar anak selalu mensyukuri segala anugerah yang diberikan Tuhan melalui kekayaan alam yang berlimpah. Anak juga dituntut lebih kreatif dan imajinatif dalam memecahkan permasalahan sendiri dalam permainan.

Yang terjadi saat ini ialah permainan anak-anak sudah banyak beralih ke permainan elektronik yang modern seperti Playstation dan online game. Hal itu juga didukung penggunaan gadget yang semakin pesat. Melalui sambungan internet, gadget memudahkan seseorang bereksplorasi secara bebas di dunia maya tanpa ada batasan. Tanpa kita sadari, penggunaan gadget yang tidak tepat memicu terjadinya tindakan kriminal yang bisa mengancam jiwa seseorang bah kan orang terdekatnya.

Dengan gadget, orang dengan mudah mengunggah (upload) berbagai informasi pribadi yang seharusnya tidak diketahui khalayak ramai, seperti informasi pada kartu identitas, paspor, lokasi kebera daan, bahkan boarding pass pesawat. Sebagai contoh: sese orang dengan bangga meng-upload informasi dari paspor yang baru dimiliki ke media sosial agar diketahui teman-temannya, atau seseorang dengan bangga meng-upload boarding pass kenaikan pesawat dengan tujuan ke negara ter tentu.

Padahal, tanpa kita sadari telah memancing tindakan kriminal. Bayangkan jika bukti boarding pass atau paspor yang kita unggah ke media sosial di gunakan oknum tertentu untuk membajak pesawat yang kita tumpangi. Informasi kartu identitas bisa juga disalahgunakan oknum tertentu untuk kepentingan yang tidak baik. Karena itu, cermatlah menggunakan gadget agar terhindar tindakan kriminal.

Pada dasarnya, penggunaan gadget memberikan banyak manfaat. Namun, di sisi lain gadget memberikan berbagai dampak negatif terhadap perkembangan anak, seperti menghambat perkembangan motorik anak, menimbulkan masalah perilaku dan kesehatan fisik, serta menghambat perkembangan bahasa dan sosial anak.

Oleh karena itu, pembentukan karakter anak dapat dilakukan melalui permainan tradisional. Untuk mengatasi lunturnya permainan tradisional di kalangan anak-anak pada zaman modern ini, perlu dilakukan upaya pelestarian permainan tradisional dengan cara mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pembelajaran. Namun, pengintegrasian itu harus sesuai dan tepat sasaran. Memang diperlukan waktu agar anak-anak dapat memahami kembali pentingnya permainan tradisional.

 
Banner
Copyright © 2017 Sekolah Sukma Bangsa Pidie. All Rights Reserved.